Pijat Payudara


Awalnya, Informasi kacangan yang kudapatkan dari seorang sahabat ku yang tinggal di Jakarta tentang Pijet Plus² gamblangnya bisa dibilang Servis Ngentot pada suatu tempat di daerah Bogor “Namanya ‘Jingalu Message’, berseberangan dengan Pasar Baru.

Dengan agak ragu akhirnya aku meluncur juga ke sana. Tak sulit menemukan tempat ini. Hanya jangan ke sana siang atau sore, macetnya gak ketulungan. Waktu yang ideal sekitar jam setengah delapan malam, traffic sudah lancar dan belum banyak pelanggan lain sehingga kita leluasa memilih ayam sesuai selera kita. Dari depan tempat ini memang biasa saja, hanya pintu kaca yang tertutp rapat dengan stiker Jingalu Message. Dengan gaya pede n terus terang deg²an aku langsung Kakuk, juga supaya tak sempat ada yang mengenaliku di pinggir jalan raya ini.
Di ruangan yang remang itu ada satu set sofa yang diduduki dua sampai 3 cewek yang berpakaian serba minim. Sejenak aku menyapu pandangan, setengah bingung. Tapi hanya beberapa detik. Salah satu dari mereka langsung bangkit dari duduknya begitu melihatku.
“Mau Pijet Kak, Ayo..!”
Putih, berwajah Indo, tingginya sedang, rok supermini memamerkan sepasang paha putihnya yang juga.. besar. Hasil evaluasiku: cewek ini serba menonjol dan serba besar.
“Ayo Kak, lihat-lihat dulu ke belakang,” ajaknya lagi ketika aku Fokus terpaku.
Digandengnya tanganku, dibawa melalui pintu kaca lagi di belakang ruangan itu. Kami melewati lorong lumayan panjang yang di kanan-kirinya terdapat pintu-pintu kamar terus ke belakang. Pantat besarnya geal-geol seirama langkah kakinya. Sampai di ujung lorong, dia berhenti di depan jendela kaca nako.
“Pilih-pilih dulu aja kak,” katanya sambil menutup kaca nako itu.
Rupanya jendela ini tempat mengintip ke ruangan besar di baliknya. Kaca nako yang dilapisi “glass film” gelap memungkinkan Aku melihat bebas ke ruangan besar itu tanpa dilihat penghuninya. AMAZING!!!! Sahabatku ternyata tak beromong kosong. Di ruangan besar itu banyak berisi sofa dan di atasnya tergeletak belasan ayam yang sungguh membuatku menelan ludah beberapa kali. Kebanyakan mereka duduk-duduk sambil nonton TV. Ada yang lagi ngobrol, ada yang berdiri di depan cermin mematut dandanannya. Umumnya, model pakaian yang dikenakannya minim terbuka di dada dan paha. Bahkan cewek yang persis lurus pandanganku duduk acuh celana dalam putihnya kemana-mana”. Hanya beberapa saat di situ mataku sudah menebar ke seluruh ruangan. Hasilnya, bingung! Semuanya menggiurkan.
“Yang mana, Kak?” tanya pengawalku Si Serba Besar ini.
“Tau nih, bingung aku,..”
“Si-A pijitnya enak, Si-B servicenya jago, Si C mainnya yahut..” katanya berpromosi.
Aku tak begitu mendengar promosinya, lagi asyik meneliti satu persatu cewek-cewek itu buat menetapkan pilihan tubuh yang pas dengan idolaku. Pijit, service, main?
“Servicenya apa aja?” akhirnya aku nanya ke Si Besar, tapi mataku fokus ke kandang ayam.
“Apa aja, terserah Kak aja. Di dalam nanti baru tahu,” katanya sok berteka-teki.
Pakaian yang mereka kenakan, terbuka dada dan paha, membantuku untuk lebih cepat menentukan pilihan. Akhirnya aku memantapkan tiga orang terbaik untuk di observasi lebih teliti. Yang bergaun biru tua itu.. hmm.. Wajahnya cantik, kulit bersih, paha mulus. Sayangnya, Payudara nya tak begitu “menjanjikan”. Bukannya kecil sih, Fokus punya belahan. Hanya Aku ingat pesan kawanku tadi.
“Pilih yang berdada besar,” katanya.
“Kenapa?”
“Gak usah banyak tanya, cobain aja.”
Untungnya, seleraku memang toket yang gede dan montok. Yang bargaun hitam lebih seksi, body-nya menggitar, wajahnya nya standar aja. Dadanya? Hanya dia satu-satunya yang pake gaun menutupi dada tapi membuka kedua bahunya. Cukup menonjol bulat, tapi jangan-jangan itu hanya model bra-nya. Bagiku, indikasi toket gede adalah punya belahan atau tidak. Si gaun hitam ini belahannya tertutup.
Yang ketiga, bergaun crem berbunga kecil, agaknya yang paling ideal. Tubuh lumayan tinggi, pinggang ramping paha bersih panjang, dadanya.. wow! Dengan gaun model, Toket nya yang gede seakan ingin meloncat keluar. Nilai plusnya lagi: berambut panjang lurus sepinggang. Tapi aku tak segera menyebut nomornya untuk dipesan. Aku Fokus menebar pandangan lagi, jangan-jangan ada yang lebih bagus terlewat dari penelitianku.

ku rebahkan tubuhku ke ranjang maksiat, telentang. Tanpa ragu dan bak seperti pengantin baru, Lisa melepas gaunnya dan kemudian pembungkus payudaranya yang sedikit memaksa untuk dibungkus. Payudaranya memang luar biasa sizenya. bulat dan besar. Mungkin terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang tinggi dan langsing. Aku mengamati dadanya sambil ngaceng. Buah dada kanannya nyaris sempurna, bulat, besar, dengan pentil susu kemerah-merah menempel sempurna. Tapi tak simetris, buah kirinya agak turun, tak bulat benar. Lisa Lalu mengambil sebuah handuk dan ke kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi Lisa berbalut handuk. Lisa membuang handuknya, hanya bercelana dalam.
“Telungkup dong Kak..!”
Aku membalikkan tubuhku. Lisa menduduki pantatku. Kontol ku yang ngaceng terjepit, mengulas minyak ke punggungku, lalu mulai mengurut. Cara mengurutnya kurang menekan, tidak seenak pemijat profesional tentu saja.
“Kamu dari mana Lis?”
“Purwakerto, Kak.”
Selesai di pinggang dan punggungku, Lisa lalu melepas celana dalamku sambil bilang maaf. Sopan sekali. Aku berbalik. Pandangan Lisa sekilas mengarah ke Kontol ku yang mengacung tegang.
“Hi hi.. udah ngaceng adiknya.”
“Kamu bugil juga dongg..!”
“Baiklah!!!” dengan tenang Lisa melepas handuk penutup tubuhnya itu. Bulu kemaluan lebat  minta ampun menutupi seluruh permukaan kewanitaannya.
“Balik lagi, dong..!”
Pantatku diPijet, lalu pahaku. Diurut dari belakang lutut ke atas. Sampai di pangkal pahaku, entah sengaja atau tidak, jempol tangannya menyentuh-nyentuh bijiku.
“Punggungnya lagi dong Lis..!”
Lisa menduduki pantatku lagi, bulu-bulu kelaminnya terasa sekali mengelusi pantatku. Memang inilah maksudku dengan meminta Pijet di punggung.
“Katanya body Message..” tagihku.
“Entar dong Kak.”
“Dah, sekarang telentang.”
Lisa menumpahkan minyak ke dada, perut, dan Kontol ku. Lalu.. hup! Dia “meluncur” di atas tubuhku.
“Sreeng”. Aku bergidik
Gemetar karena nikmat. Kedua Payudara nya diusap-usapkan dengan tekanan ke dadaku. Lalu turun ke perutku. Ini sih bukan body Message, tepatnya “pijet payudara”. Payudara nya yang mengkilat berlumuran minyak sering menggelincir di tubuhku. Tiga kali berurutan dada dan perutku diPijet Payudara nya, lalu.. inilah yang membuatku berdesir kencang.
Lisa menumpahkan minyak di telapak tangannya lalu mengoleskan di kedua Payudara nya. Buah itu makin mengkilat, dan putingnya tegang! Lalu, bergantian kiri kanan, Payudara nya memijati kelaminku, mak! Tak itu saja. Diletakkannya batang Kontol ku di belahan dadanya, lalu di”uyek”. Lisa menggoyang tubuh atasnya bak penari salsa.
Inilah sebabnya mengapa kawanku menyarankan agar aku memilih yang berdada besar. Sepasang daging kenyal memijati Kontol ku, rasanya bagai terbang. Terbayang kan, kalau dada model “papan setrikaan”, bukannya nikmat malah pegel. Aku harus sekuat tenaga manahan diri untuk tidak ejakulasi. Apalagi nampaknya Lisa mengkonsentrasikan tekanan dadanya ke Kontol ku.
Untung saja baru kemarin aku nge-critt. Kalau tidak, mungkin aku sudah menyiram maniku ke payudara gede Lisa. Kadang aku menghentikan gerakan liarnya, sekedar mengambil nafas panjang. Lalu memerintahkan menggoyang lagi ketika aku sejenak memerintahkannya untuk STOP.
“Ga tahan mau ngecertt ya?” katanya.
Lisa menuruti komandoku. Oohh.. cukuplah stimulasi ini, supaya aku bisa menikmati pelyanan Lisa lainnya selain pijet payudara yang cukup membuatku kelabakan. Aku berhasil menahan diri, Lisa bangkit.

Diciuminya perutku, terus turun ke pahaku, kanan dan kiri sampai ke dengkul. Naik lagi menciumi kedua bijiku, bahkan mengemotnya, satu persatu bergiliran bijiku Kakuk ke mulutnya. Giliran lidahnya menjilati batang Kontol ku, dari pangkal ke ujung. Di sini dia memasukan kepala Kontol ku ke mulutnya. Hanya sebentar, dilepas lagi dan mulai menjilati dari pangkalnya lagi. Begitulah berulang-ulang sampai akhirnya dia melakukan blow job seperti adegan oral sex di film biru. Kembali Aku harus berusaha untuk tidak meledak. Lagi-lagi aku harus menyetopnya ketika kurasakan aku hampir muncrat.
Bagian intipun dimulai.
“Pake kondom ya Kak..!”
Maksudku juga begitu. Aku tak mau ambil resiko bermain seks dengan perempuan sewaan begini tanpa pengaman.
“Tolong ambilin di saku celanaku..!”
“Saya bawa kok Kak.”
Dengan terampil dia meKakangkan kondom di Kontol ku. Berpengalaman dia rupanya.
“Kakak termasuk kuat, lho..!”
Ah, ini sih basa-basi standar seorang profesional.
“Ah, bisa aja kamu.”
“Bener lho, biasanya baru dibody aja udah keluar.”
Aku mencegah Lisa yang mulai menaiki tubuhku. Aku kurang suka dengan posisi di bawah. Membatasi gerakanku. Lisa telentang dan membuka kakinya lebar-lebar. Sambil mengulumi putingnya. Belum sempat aku menggoyang, Lisa duluan memutar pantatnya. Yah, posisi standar tak perlu diceritakan prosesnya kan? Anda sudah tahu. Kecuali, beberapa kali aku terpaksa menyuruh Lisa diam, agar aku dapat memompa sambil merasakan sensasi gesekan Kontol ku pada dinding-dinding vagina Lisa. Oh ya, ada lagi yang perlu kuceritakan. Ketika aku mengambil Break dari gerakan memompa, dengan trampilnya Lisa memainkan bagian dalam Memek nya berdenyut-denyut teratur menyedoti Kontol ku. Rasanya Gan!!!! Susah digambarkan. Semacam kompensasi dari lubangnya yang tak begitu erat menggenggam Kontol ku. Maklum, sering dipakai. Bahkan sampai aku selesai dan rebah lemas menindih tubuhnya, Lisa Fokus memainkan denyutan Memek nya! Aku tak menyesali keputusanku untuk memilih Lisa dibanding Si Serba bulet tadi.
“Semua cewek di sana tadi service-nya memang begini ya?” tanyaku membuka kebisuan.
Aku Fokus menindih tubuhnya, Kontol ku Fokus di dalam.
“Engga tahu dong, Kak. Cobain aja,” ada nada kurang senang yang tersirat.
“Bukan begitu, cuman pengin tahu aja.”
“Eh, bener kok Kak, Saya engga ada apa-apa. Tamu kan berhak memilih.”
“Kakak sering ngeseks ya,” kata Lisa ketika dia melepas kondom dan “memeriksa” isinya.
“Keluarnya dikit,” sambungnya. Tahu aja lagi dia.
“Jangan kapok ya, Kak..!”
“Engga dong,” Serangkaian servis yang disuguhkan Lisa memang memuaskanku.
“Sering-sering ke sini ya..!” Lagi-lagi ucapan basa-basi yang standar.
“Iya dong, kalau ada kesempatan lagi saya ke sini dan pilih kamu lagi.”
“Ah engga usah basa-basi, pasti Kakak pengin coba yang lain kan..?” Lagi-lagi, tahu aja lagi dia.
Aku pun melajutkan ronde ke-dua hingga servis yang diberikan Lisa selesai. Seminggu 3 kali aku rutin kemari, Servis Lisa yang menurutku terbaik dari seluruh ayam-ayam yang ada disini terutama servis pemanasan Pijet Toket Lisa yang gede dan yang paling inti dari utama adalah empotan memeknya yang ruarrr biasa!!.

0 comments:

Total Pageviews